advertisement

Rabu, 7 Januari 2015

AL-QA’IDAH WAZIRISTAN SEBUAH KESAKSIAN DARI DALAM - Oleh: Abu Jarir Ash-Shamali

Kepala Kepolisian Iraq : Islamic State Hari Ini Kuasai 14 Desa di Timurlaut Al-Baghdadiy
 
Oleh: Abu Jarir Ash-Shamali

بسم الله الرحمن الرحيم

Saya memulainya dengan nama Allah ‘Azza wa Jalla. Shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah shallā Llāhu ‘alaihi wasallam. Shalawat dan salam juga tercurah kepada keluarga, isteri-isteri, sahabat-sahabat, dan para pengikut beliau yang shalih hingga Hari Pembalasan. ‘Amma ba’d:

Di Yordania, yaitu di masjid-masjid yang ada di ‘Amman, Az-Zarqa’, Irbid, dan kota-kota lainnya, saya berinteraksi dengan sejumlah putera yang berasal dari kota-kota tersebut yang menamakan diri mereka Jama’ah At-Tauhid. Tiada yang mengikat di antara kita kecuali karena walā` dan barā` yang kita pelajari dari Al-Qur’an, kitab-kitab tauhid, apa yang ditulis oleh Abu Muhammad Al-Maqdisi mengenai thaghut dan iman kepada Allah, apa yang ditulis oleh ulama lainnya mengenai tauhid, seperti ‘Abdul Qadir ibnu ‘Abdul ‘Aziz (Sayyid Imam) – semoga Allah mengembalikan keduanya ke jalan sebelumnya yang benar – dan kitab-kitab salaf Ibnu Taimiyyah, Ibnu Al-Qayyim, dan yang lainnya. Kami mempelajari kitab-kitab ini di bawah bimbingan para ikhwan senior yang mempunyai ilmu syar’i.


Kami bertengkar dengan seluruh kelompok sesat seperti “Al-Ikhwan Al-Muslimin”, “Jama’ah Tabligh”, para Sufi, dan lain-lain. Kami menampakkan diri, sehingga kami dipindahkan ke sana kemari di antara berbagai departemen di bawah dinas intelijen dan keamanan atau dipulangkan dengan dikenai tahanan rumah di bawah pengawasan ketat, dan sebagainya.

Abu Mush’ab Az-Zarqawi adalah contoh muwahhid yang mengamalkan jihad. Beliau merupakan pusat bagi hati seluruh ikhwan. Beliau seperti amir bagi kami. Saya tidak melihat seorang pun di arena (jihad) ini yang menyelisihi pendapat dan kesepakatan tersebut. Sebelum Peristiwa 11 September, kami berpendapat bahwa Tanzhim Al-Qa’idah adalah organisasi jihad dengan pandangan irja’, karena pernyataan mereka pada masa lalu (akhir 80-an dan awal 90-an) oleh beberapa pemimpinnya terhadap berbagai pemimpin murtad – terutama Arab Saudi – bala tentara mereka, dan keragu-raguan para personilnya untuk menyatakan kemurtadan para pemimpin ini dan bala tentaranya.[1] Kami juga memandang bahwa Thaliban di Afghanistan mempunyai kelemahan dalam mengajarkan tauhid kepada para anggotanya. Kekurangan ini menyebabkan banyak di antara anggotanya jatuh ke dalam perkara-perkara syirik, seperti thawaf di kuburan dan menggunakan jimat. Sayangnya, hal ini masih ada sampai sekarang.

Abu Mush’ab Az-Zarqawi pergi ke Aghanistan selama masa pendudukan Rusia hingga terusirnya musuh komunis yang menyerang negeri Muslimin di Afghanistan, meskipun beliau melihat pelanggaran syari’at yang dilakukan oleh orang-orang awam. Dengan alasan ini, kami terkumpul menjadi dua kelompok: satu kelompok yang mendukung ‘amaliyah di Afghanistan walaupun mengetahui keadaan di sana dan kelompok yang tidak mendukung ‘amaliyah di Afghanistan.

Abu Mush’ab Az-Zarqawi kembali ke Yordania sebelum Perang Teluk I. Beliau kemudian masuk penjara selama 5 tahun. Beliau ditahan bersama dengan Abu Muhammad Al-Maqdisi atas kasus yang disebut oleh rezim Yordania sebagai “Bai’at al-Imam”. Setelah meninggalkan penjara, beliau langsung mempersiapkan diri untuk pergi ke Afghanistan. Beliau berada di sana hingga terjadi Peristiwa 11 September. Beliau tetap di sana karena medan Afghanistan cocok untuk jihad disebabkan kurangnya pengawasan dari rezim-rezim kufur, luasnya wilayah ekspansi para ikhwan mujahid di sana, mudahnya pergerakan, dan melimpahnya senjata untuk i’dad dan latihan. Akan tetapi – sebagaimana diketahui – Amerika masuk ke Afghanistan dan mendudukinya.

Setelah Amerika menyerang, seluruh kelompok mujahid mundur dan meninggalkan medan tersebut menuju medan-medan lain, terutama Waziristan. Di sana terdapat berbagai macam kelompok, aqidah, dan manhaj; yang kesemuanya berpandangan jihad. Semua ikut dalam memerangi musuh (Amerika). Di antara kelompok ini terdapat Tanzhim Al-Qa’idah yang menjadi terkenal disebabkan operasi-operasi khususnya, salah satu yang paling terkenal adalah penghancuran dua gedung di New York serta serangan atas kapal USS Cole dan kedubes AS di Nairobi dan Darussalam.

1

Pada akhir tahun 90-an, Abu Mush’ab Az-Zarqawi dan kelompoknya yang berjumlah sedikit bermarkas di kota Herat, Afghanistan – kota yang mayoritas penduduknya Rafidhah – jauh dari kelompok-kelompok mujahid dan muhajir. Beliau melakukan ini guna mengisolasi kelompoknya dari yang lainnya pada saat itu dan menghindari lalu lintas kunjungan rutin, sehingga dengan demikian kelompoknya terhindar dari infiltrasi agen intelijen. Selain itu, beliau juga mengisolasi mereka disebabkan apa yang dituduhkan oleh para anggota kelompok lainnya terhadap beliau dan kelompok beliau. Mereka menuduh beliau takfiri, Khawarij, dan orang yang berpaham ekstrim.

Adapun kelompok ikhwan yang kedua yang tetap berada di Yordania, maka kami tidak mendukung perang di Afghanistan (sebelum 11 September). Akan tetapi, kami berpikir lebih baik bagi kita untuk tetap tinggal di Yordania dan mendakwahkan tauhid, terutama ketika seorang ikhwan datang dari Afghanistan dan menggambarkan keadaan Afghanistan, Thaliban, dan pelanggaran-pelanggaran terhadap syari’at yang mereka lakukan.

Pada awal abad yang baru, Thaliban Afghanistan menghancurkan patung Buddha atas perintah Amir Mulla Muhammad ‘Umar, sehingga jiwa-jiwa mulai merindukan medan Afghanistan. Akan tetapi, karena tidak ada jalan menuju ke sana, maka hal tersebut terhenti oleh faktor keadaan.

2

Pada tahun 2001, dua Menara di Manhattan, Amerika, runtuh sebagai karunia kemenangan dari Allah, melalui serangan para ikhwan Tanzhim Al-Qa’idah. Jika peristiwa ini mengindikasikan sesuatu, maka ia mengindikasikan kejujuran jiwa pria ini – Syaikh Usamah ibnu Ladin – dengan pertolongan Allah, wa Llāhu a’lam.

Pada tahun 2002, saya bertemu Al-Akh Abu Mush’ab Az-Zarqawi di Yordania dan memberitahukan kepadanya rencanaku untuk meninggalkan Yordania menuju medan jihad di mana saja. Syaikh raḥimahu Llāh mempersiapkan untukku rute, lalu saya berangkat. Dalam perjalanan menuju Afghanistan, saya ditahan di Iran tidak lama setelah pengambilalihan Baghdad.

Beberapa waktu setelah Serangan 11 September, Syaikh Usamah ibnu Ladin raḥimahu Llāh secara eksplisit menyatakan murtadnya para penguasa Al-Haramain dan bala tentara mereka serta wajibnya memerangi mereka. Hal ini disampaikan dalam beberapa pesan beliau. Dengan ini, penghalang yang mencegah penyatuan barisan mujahid muwahhid – Az-Zarqawi beserta jama’ahnya dan Ibnu Ladin beserta organisasinya – telah lenyap.

Setelah itu, pada akhir tahun 2004, ketika pasukan mujahidin yang dikepalai Syaikh Abu Mush’ab tengah menghadapi Rafidhah, Amerika, dan orang-orang yang berpihak kepada mereka dari para murtad dan antek, Syaikh mengumumkan bai’atnya kepada Syaikh Usamah. Keadaan ini membuat kami – kelompok Abu Mush’ab yang berada di penjara Iran – ikut memberikan bai’at. Bersama kami ada sekelompok ikhwan dari Tanzhim Al-Qa’idah di dalam penjara-penjara milik Rafidhah. Mereka berada di sana ketika Al-Akh Khalid Al-‘Aruri fakka Llāhu asrah dan saya ditahan. Kami sebagai anggota kelompok Abu Mush’ab Az-Zarqawi, Jama’ah At-Tauhid Wal-Jihad, memberikan bai’at, kecuali dua ikhwan Khalid Al-‘Aruri dan Shuhaib Al-Urduni.[2] Kami tidak mendengar satu komentar pun dari mereka mengenai hal ini. Barangkali hal ini dikarenakan Tanzhim masih lunak dalam menghadapi tentara rezim murtad. Demikian juga, adanya perbedaan yang mereka dapatkan dengan para tahanan Tanzhim di Iran yang berpendapat bahwa orang-orang Rafidhah dan para sipir tidaklah murtad.

Dengan pernyataan Syaikh Ibnu Ladin raḥimahu Llāh, pandangan kami terhadap Tanzhim berubah dari pandangan sebelumnya. Organisasi tersebut sekarang menjadi cermin dari apa yang biasa kulihat pada para ikhwan di Yordania – Jama’ah At-Tauhid. Betapa besar keinginanku untuk bebas, sehingga dapat memeluk Syaikh Abu Mush’ab raḥimahu Llāh karena telah menyatukan barisan di atas tauhid dan membuat marah musuh dengan pembai’atan ini. Gambaran seperti itu tetap terpelihara dalam benakku. Aku menunggu sampai keluar dari penjara, sehingga dapat hidup bersama ikhwan di medan jihad bersama dengan organisasi baru yang besar di mana aku sekarang tergabung di dalamnya.

Pada akhirnya kami semua dibebaskan menjelang akhir tahun 2010. Akan tetapi, pihak Rafidhah masih menahan beberapa ikhwan di dalam penjara, di antaranya adalah dua ikhwan yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu yang tidak memberikan bai’at kepada Al-Qa’idah: Khalid Al-‘Aruri dan Shuhaib Al-Urduni. Saya pikir alasan yang membuat mereka tidak dibebaskan adalah penolakan mereka atas bai’at kepada Tanzhim.

Aku pergi ke kota Quetta, Pakistan, dan tetap di sana selama 6 bulan, sampai aku diizinkan memasuki wilayah Waziristan oleh Tanzhim. Alasan mereka menundanya ialah karena hebatnya serangan Amerika terhadap ikhwan-ikhwan di Waziristan. Oleh karena itu, kesaksian saya meliputi apa yang saya saksikan dan alami di Waziristan setelah wafatnya amir dan pendiri Tanzhim – Syaikh Usamah ibnu Ladin raḥimahu Llāh dalam operasi yang dilakukan oleh pasukan Amerika dekat Abbottabad.

3

Hal yang sangat mengejutkan pertama yang kutemukan ialah kupikir Waziristan merupakan wilayah yang telah dibebaskan sepenuhnya, sehingga seseorang bisa berjalan ke timur, barat, utara, dan selatan dengan tidak bertemu tentara murtad dan tidak mendengar sesuatu pun dari mereka. Kupikir mujahidin adalah para pengambil keputusan di sana dan hukum-hukum syari’at diterapkan oleh mereka di sana. Namun sayang sekali, hukum yang berlaku adalah hukum-hukum adat. Hal yang merugikan syari’at ialah hukum-hukum adat ini mengatur penduduk negeri tersebut. Tentara murtad Pakistan terdapat di setiap bukit dan pegunungan mengawasi semua kelompok manusia beserta semua desa dan kota. Para tentara Pakistan mengadakan jam malam satu hari setiap minggu. Begitu pula, mereka berpindah-pindah di antara berbagai zone yang ada dan memasok diri mereka dengan amunisi dan dana. Bila ada masalah yang mengganggu, mereka akan memperpanjang jam malam selama yang mereka inginkan.

Apabila ingin melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, anda harus selalu menjauh dan menyimpang dari jalan, agar tidak dekat dengan perkemahan mereka dan tidak berpapasan dengan mereka. Dan perkemahan mereka banyak! Ini akan memperpanjang perjalanan anda, sukar, dan semakin menyulitkan usaha anda.

Adapun keadaan mujahidin di sana, maka anda akan melihat hal yang sangat mengherankan! Pemimpin organisasi – “Qa’idah al-Jihad” – seharusnya mempunyai reputasi besar, dari dirinya akan memancar mata dan hati seorang Muslim yang shalih dengan suara fitrah yang dirindukan dan ditunggu-tunggu. Organisasi tersebut diharapkan akan membimbing mereka ke arah pembebasan, mengangkat senjata melawan thawaghit, memberlakukan hukum-hukum Allah melalui tangan-tangan mereka, dan mendukung hak-hak mereka serta membantu ketertindasan mereka… Akan tetapi, sama sekali kami tidak melihat itu semua di lapangan, karena Tanzhim gemar mengelompok-ngelompokkan mujahidin di lapangan menjadi takfiri ekstrim, Khawarij, dan setengah takfiri. Orang-orang yang mempunyai pandangan irja’ yang mendalam akan mereka dekatkan kepada diri mereka di bawah kepura-puraan menghancurkan pemikiran Khawarij dan mengusirnya keluar dari Tanzhim. Atas alasan ini, tangga piramida organisasi yang mengarah ke pimpinan ialah tangga yang dikelilingi oleh filter yang terdiri dari aparat intelijen yang mengklaim bermanhaj sama. Dengan demikian, tidak ada ikhwan yang bermanhaj shahih yang dianggap menentang mereka mampu mengubah kejahatan dan menyatakan kebenaran melawan kesalahan-kesalahan Tanzhim, baik secara syar’ī maupun secara militer. Justru sebaliknya, para ikhwan harus berhadapan dengan pen-taḥdzīr-an, peng-ḥajr-an, marjinalisasi, dan bahkan fitnah.

4

Sebagaimana yang anda ketahui, kejahatan Rafidhah merajalela, terutama makar-makar mereka, rencana-rencana kotor mereka, dan kebencian tersembunyi mereka terhadap Islam dan Muslimin di antara para sahabat, tabi’in, dan salaf ash-shāliḥ. Allah membongkar kedok dan kejahatan mereka. Media ini (stasiun-stasiun TV satelit milik Rafidhah) semata adalah bukti yang jelas dan nyata yang memperlihatkan jati diri mereka, perbuatan mereka, dan tuduhan-tuduhan mereka terhadap Rasulullah shalla Llāhu ‘alaihi wasallam dan agama. Media mereka akan menjadi bukti perselisihan mereka atas kami di dunia dan di Hari Pembalasan dengan tidak berbuat apa-apa terhadap ahli bid’ah ini.

Setelah beberapa hari sebelum sampai Miransyah, aku diancam dan dicerca oleh amir Komite Syari’at Tanzhim Al-Qa’idah karena menggunakan kata “Rafidhah” ketika menjelaskan Iran, di mana aku ditahan selama kurang lebih 8 tahun. Aku menggunakan kata tersebut ketika ditanyai kondisiku, asal keberangkatan, dsb. oleh para ikhwan yang akan mengunjungiku selepas kedatanganku dari perjalanan. Aku kemudian dituduh Khawarij dan takfiri! Aku diberitahu oleh amir Komite Syari’at pada waktu itu (Salim Ath-Tharabulusi Al-Libi – raḥimahu Llāh), “Pergilah ke Yordania dan kafirkanlah siapa saja yang kamu mau, dan kami akan mendukungmu!” Itu adalah hal mengejutkan kedua yang kudapatkan. Akan tetapi, aku memutuskan untuk tetap bertahan dan berusaha mengubah semampuku. Aku mulai membicarakannya di depan semua ikhwan di dalam Tanzhim pada semua tingkatan terkait dengan berbagai permasalahan yang kutemui di lapangan, yaitu:

1) Medan pertempuran ini penuh dengan mujahidin bersenjata, sehingga mereka mampu mengambil alih wilayah tersebut. Lalu, mengapa hukum Allah tidak diterapkan?

2) Mengapa hukum-hukum adat thaghut (Jirga) dan hukum-hukum lain diterapkan tanpa ada komentar atau bahkan tidak berusaha untuk menasihati masyarakat?

3) Mengapa mujahidin masuk dan keluar wilayah Afghanistan melewati tentara Pakistan ketika berperang melawan Amerika?

4) Bukankah pengaspalan jalan-jalan di antara kota-kota dan wilayah-wilayah di Waziristan oleh pemerintah Pakistan mengindikasikan bahwa negara Pakistan mempunyai misi di daerah tersebut?

5) Mengapa anak laki-laki dan perempuan di wilayah tersebut memasuki sekolah-sekolah pemerintah sekuler secara besar-besaran dan diketahui tanpa ada arahan atau persiapan untuk mendirikan gedung-gedung sekolah oleh mujahidin, terutama Al-Qa’idah pusat, yang benar-benar telah lalai terhadap permasalahan sekolah dan pembelajaran bagi putera-putera mujahid muhajirin dan anshar, kecuali baru-baru ini ketika anak-anak Tanzhim diberi satu perangkat khusus?

6) Mengapa ada desakan untuk tidak menyelidiki pelanggaran-pelanggaran syari’at dan akhlak serta kesalahan-kesalahan penduduk, sementara mengklaim bahwa di sana ada manfaat syar’ī supaya mereka tidak menjauh atau kita berbenturan dengan mereka?

7) Aku diminta oleh pimpinan Tanzhim melalui kepala keamanan dan ideolog mereka Abu ‘Ubaidah Al-Maqdisi (‘Abdullah Al-‘Adam raḥimahu Llāḥ) untuk berhenti memuji berlebihan revolusi Arab atau apa yang disebut dengan “the Arab Spring”.

8) Kami harus mengumpulkan barisan dari kelompok pejuang yang berbeda-beda, menyatukan mereka, dan menyelesaikan problem-problem yang tidak terselesaikan di antara mereka dan Tanzhim.

9) Kita harus mengasingkan para wanita dari medan, sehingga kehadiran mereka tidak menjadi hambatan yang menyebabkan pergerakan ikhwan mujahidin menjadi sulit jika secara mendadak ada aksi militer yang tidak diduga. Pergerakan akan menjadi sulit dengan keberadaan mereka, karena tingginya pegunungan di wilayah tersebut. Selain itu, tidak ada tempat berkumpul untuk mereka.

Poin-poin ini disampaikan, baik dengan pesan tertulis lewat Al-Akh Abu Shalih Al-Mishri raḥimahu Llāh atau dengan lisan langsung kepada Al-Akh Abu ‘Ubaidah Al-Maqdisi di mana tanggung jawabnya adalah menjadi penengah antara ikhwan di lapangan dan pimpinan Tanzhim. Al-Akh Abu Shalih Al-Mishri adalah seorang sahabat dekatku ketika kami sama-sama berada di penjara di Iran. Hubungan persahabatan di antara kami berlanjut di Waziristan. Allah menjadikan lelaki ini sebagai pembela dan pelindungku karena kedekatannya dengan pimpinan Tanzhim. Dia juga amirku dalam beberapa tugas khusus yang kita kerjakan bersama-sama.

Tanzhim tetap berada dalam kondisi seperti ini, tidak mendengarkan, tidak melihat, dan tidak ingin berubah, terutama karena ia seperti sebuah perkumpulan rahasia, dan untuk sampai kepada pimpinan adalah suatu hal yang sangat sulit, kecuali dalam kasus-kasus tertentu seperti kunjungan dari seorang pimpinan ke kamp-kamp di pegunungan. Masalah inilah yang membuat seorang ikhwan yang mempunyai keperluan, pertanyaan, atau kesulitan tidak mendapatkan jawaban. Jika dia mendapatkannya, maka itu adalah keberuntungan. Jawaban baru datang setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau tidak sama sekali. Ini adalah sistem yang tidak bisa ditembus. Filter yang dibuat Tanzhim akan menyaring semua orang di lapangan. Siapa pun yang tidak menentang manhaj qiyādah (kepemimpinan) akan menaiki tangga piramida. Sayangnya, aku menemukan bahwa manhaj Qā`idah al-Jihād setelah kematian Syaikh Usamah ibnu Ladin raḥimahu Llāh sama dengan manhaj sebelum dia menyatakan secara eksplisit mengenai kekafiran rezim Saudi dan tentaranya. Jadi, Al-Qa’idah sebelum saya dipenjara adalah sama dengan Al-Qa’idah setelah saya dibebaskan. Manhajnya adalah irja’ yang menahan diri dari banyak hal di bawah klaim kehati-hatian atau kemanfaatan. Hal yang paling aneh adalah keragu-raguan untuk mengkafirkan Rafidhah pada masa di mana kejahatan mereka tidak tersembunyi dari setiap orang, baik dekat maupun jauh. Adapun kondisi Tanzhim selama masa penahananku, maka saya tidak tahu apa yang sedang terjadi pada mereka.

Saya tidak menasihati mereka dengan cara merendahkan, menjelek-jelekkan, atau menentang keras, sebab saya pikir hal seperti itu tidak akan mencapai tujuan. Saya pikir saya akan menemukan seseorang yang mau mendengar atau melihat perubahan tertentu di dalam Tanzhim. Akan tetapi, sayangnya, tidak ada seorang pun yang mau mendengarkanku, tidak juga dari tingkatan kedua atau ketiga Tanzhim. Justru sebaliknya, anda akan mendapatkan pencegahan, pelarangan, penolakan ide, dan penghindaran.

5

Abu ‘Ubaidah Al-Maqdisi adalah seorang metodologis yang membawa pemikiran irja’ yang “Qā’idī”, namun dia tidak akan mengelak dari dialog atau diskusi dan mau mendengarkan, berbicara, dan berdiskusi. Waktu itu kupikir ada hal yang baik pada dirinya, meskipun kita saling mengeraskan suara satu sama lain di tempat-tempat umum atau rahasia. Hingga pada akhirnya, aku mendengar hal-hal aneh dari dirinya, termasuk pernyataannya bahwa Tanzhim memandang Ath-Thanthawi (mantan mufti Al-Azhar) dan Al-Qaradhawi adalah ulama Islam dan mereka tidak mengkafirkan keduanya.

Pada waktu yang sama, majalah Arab As-Shumud mengeluarkan pernyataan dari Mulla Muhammad ‘Umar yang berpesan kepada umat Islam pada hari ‘Idul Fitri 1433 H. Ia menjelaskan masa depan Afghanistan setelah kepulangan tentara Amerika. Ia menyebutkan beberapa klausul yang merusak Islam dan – dengan menggunakan suara yang patriotik dan kebangsaan – menyerukan untuk menghormati perjanjian internasional dan perbatasan, mengucapkan selamat atas revolusi bangsa Arab yang mengganti rezim mereka, dan meminta kepada orang-orang yang meninggalkan negara-negara tersebut – maksudnya para mujahid muhajir yang dizhalimi – agar pulang ke negeri mereka.[3]

Aku bisa mengatakan pada diriku sendiri, di mana Tanzhim Al-Qa’idah – yang memerangi Amerika sang pemelihara kekafiran dan demokrasi – bereaksi terhadap hal ini? Apakah pernyataan ini hanya disampaikan oleh Qā`idah al-Jihād? Dan pernyataan ini keluar setelah sebelumnya diawali dengan konferensi Paris dan pertemuan dengan delegasi Mulla Muhammad ‘Umar di Universitas Tokyo, di mana mereka berbicara dengan dunia Barat mengenai masa depan Afghanistan setelah kepulangan tentara Amerika dan politik baru Thaliban. Pertanyaan ini terus muncul, terutama karena amir Tanzhim Al-Qa’idah (Azh-Zhawahiri) biasanya berulang kali menyatakan bahwa ia mempunyai bai’at kepada Mulla Muhammad ‘Umar dan menyerukan cabang dan kelompok lain untuk melakukan hal yang sama.

Hal tersebut memunculkan banyak pertanyaan dalam benakku.

Aku menulis sebuah bantahan terhadap pernyataan Mulla Muhammad ‘Umar dan mengingatkan Tanzhim mengenai pernyataan tersebut. Abu ‘Ubaidah Al-Maqdisi telah menyuruhku untuk menuliskannya. Aku juga menanyakannya kepada faksi Haqqani yang mewakili Mulla Muhammad ‘Umar di Waziristan. Mereka juga menyuruhku untuk menuliskan sebuah bantahan terhadap Mulla Muhammad ‘Umar. Lalu saya menulis bantahan dan mengirim salinannya lewat faksi Haqqani kepada Mulla Muhammad ‘Umar. Mereka mengatakan bahwa suratnya akan sampai ke dia pada Hari ‘Idul Adha. Akan tetapi, sayangnya tidak ada jawabannya hingga sekarang. Aku bertemu perwakilan Mulla Muhammad ‘Umar – Muhibbullah – dan memberikan kepadanya sebuah salinan tentang bantahan tersebut. Sayangnya, lagi-lagi tidak ada jawaban yang datang sampai sekarang.

Aku melihat sekeliling dan tidak menemukan jalan untuk keluar di mana aku dapat melihat Islam yang benar-benar menerapkan hukum-hukumnya. Bumi terasa sempit bagiku. Maka, yang pertama kali aku pikirkan adalah pergi ke Birma (Myanmar) untuk berperang di sana. Aku menanyakannya kepada salah satu ikhwan dan kawan dari mujahidin senior dan terkemuka di daerah tersebut, yaitu ikhwan dari Punjab. Ia mengatakan bahwa untuk pergi ke Birma adalah suatu hal yang mustahil, karena rutenya sulit dan panjang dan adanya rezim thaghut Bangladesh yang rasis. Aku lalu berpikir untuk pergi ke Yaman. Itu adalah rencana yang ingin kulakukan.

Akan tetapi, aku kemudian mengetahui adanya ikhwan di utara Waziristan – Tahrik Thaliban Pakistan – di wilayah Khaibar. Mereka sungguh-sungguh berada di atas kebaikan. Mereka membawa aqidah Salafi serta berkeinginan dan berjuang untuk menerapkan hukum-hukum Islam di wilayah tersebut.

6

Akhirnya aku mengambil keputusan tersebut dan pergi ke sana pada tanggal 26 Januari 2013. Aku mencapai daerah Kuki Khail pada tanggal 7 Maret 2013. Aku mempelajari karakter alam, penduduk, dan masalah-masalah lain yang sebelumnya tidak kuketahui. Aku mempelajari tentang berbagai kelompok, terutama kelompok-kelompok yang berkaitan dengan Thaliban.[4]

1) Thaliban Afghanistan semacam faksi Haqqani. Mereka adalah orang-orang Afghanistan asli. Mereka menganggap Mulla Muhammad ‘Umar sebagai pemimpin tertinggi mereka.

2) Thaliban Waziristan yang menganggap diri mereka orang Pakistan. Mereka mempunyai banyak pemimpin, termasuk Qalbhadir, Ghulam Khan, Gud ‘Abdurrahman, dan yang lainnya. Mereka memandang diri mereka orang-orang Pashtun dari Pakistan. Mereka bekerja untuk kepentingan mereka di daerah tersebut sekalipun jika itu merugikan faksi-faksi lain. Mereka mempunyai hubungan yang kuat dengan intelijen Pakistan. Mereka menganggap Mulla Muhammad ‘Umar sebagai pemimpin mereka.

3) Thaliban independen di wilayah Khaibar, sebelah utara Waziristan. Mereka bersekutu kuat dengan pemerintah Pakistan. Mereka hidup dari opium dan marijuana. Mereka melawan Tahrik Thaliban Pakistan dan menghalangi mereka untuk menggunakan jalan dengan senjata. Mereka mempunyai banyak nama, di antaranya: “Lasykar Islam”, “Anshar Al-Islam”,[5] “Jama’ah At-Tauhid”, “Munghul Bagh”, dan lain-lain.

4) Tahrik Thaliban Pakistan adalah muhajirin dari wilayah-wilayah yang dimasuki tentara Pakistan di Wadi Swat dan daerah-daerah lainnya dekat Peshawar. Barangkali mereka adalah kelompok terbaik yang ada di wilayah Waziristan. Namun sayangnya, intelijen Pakistan mampu menyusupkan beberapa personilnya dan menghasut di antara beberapa pemimpin suku mereka untuk berperang di antara sesamanya dalam perkara kepemimpinan. Mereka terdiri dari gabungan beberapa suku dan setiap gabungan mempunyai pemimpin sendiri. Mereka telah menegakkan hukum-hukum syari’at di Wadi Swat sebelum saya datang ke Waziristan, dan Tanzhim Al-Qaidah langsung mengirim seorang pria Pashtun bernama Mufti Hasan untuk bertemu kelompok Tahrik dan membujuk mereka agar tidak terburu-buru menegakkan hukum syari’at. Alasannya adalah demi kebaikan umum yang lebih besar… Ketika Mufti Hasan bertemu Syaikh Maqbul (mufti dari Tahrik), Syaikh Maqbul meyakinkan dia akan kebaikan penerapan hukum-hukum syar’at pada waktu itu. Lalu Mufti Hasan kembali dengan ide baru dan memberitahukannya kepada Tanzhim Al-Qa’idah, tetapi dia dibalas dengan diusirnya dari Tanzhim. Dia sekarang menjadi anggota Tahrik Thaliban Pakistan. Peristiwa ini diceritakan kepadaku oleh beberapa pemimpin Tahrik yang ikut menyaksikan.

Pemerintah Pakistan mampu menghasut semua faksi melawan kelompok Tahrik di daerah mereka di utara Waziristan, karena diperkirakan Tahrik Thaliban akan menguasai wilayah tersebut.

Tahrik mampu memasuki dan membebaskan wilayah terbesar Waziristan utara bernama Midan (wilayah yang dikuasai oleh Thaliban “Anshar Al-Islam”[6] yang beraliansi dengan rezim Pakistan dengan pemimpinnya Mahbub Al-Haqq), setelah menyerang wilayah tersebut. Hal itu segera memunculkan rasa takut dalam militer Pakistan dan sekutu-sekutu mereka, maka mereka segera lari tanpa melakukan perlawanan. Kami berada di sana selama tiga bulan sebelum tentara mulai membombardir wilayah tersebut. Midan akhirnya menjadi arena pertarungan militer Pakistan dan wilayah perang yang dikotori oleh tembakan-tembakan pasukan militer. Kami kemudian mundur dari Midan dan kembali ke Kuki Khail dan Tura Dara. Pasukan militer kemudian memasuki Midan, memperoleh kemenangan dengan menghancurkan musuh terkuat mereka (Tahrik) dan mengusirnya dari daerah tersebut.

Program pemerintah selanjutnya adalah bergerak ke arah selatan ke Waziristan tengah, yaitu daerah Miransyah, Mir ‘Ali, dan daerah lainnya di mana terdapat mujahidin muhajir… daerah-daerah yang hampir tidak ada mujahidin, karena mereka pergi dari satu medan ke medan lainnya. Tanzhim Al-Qa’idah bertanggung jawab atas perginya mereka. Aku memandang amir Tanzhim Al-Qa’idah dan semua yang memperindah dan mendukung perbuatannya sebagai orang yang bertanggung jawab atas pengosongan wilayah.

7

Tahrik Thaliban Pakistan adalah mujahidin terbaik yang kulihat di lapangan. Mereka sungguh-sungguh di atas kebenaran. Kebanyakan pemimpinnya memiliki aqidah shahih dan berada di atas manhaj Salaf – kami memandangnya demikian. Adapun orang-orang awamnya, maka mereka mempunyai beberapa permasalahan disebabkan memiliki taraf pengetahuan keislaman yang lemah dan fanatisme madzhab.

Pemimpin mereka Fadhlullah bertemu dengan Mulla ‘Umar lebih dari 15 tahun yang lalu dan berbai’at kepadanya pada waktu itu. Mulla ‘Umar memberikan sorbannya sendiri sebagai hadiah. Dia loyal kepada Mulla ‘Umar hingga sekarang, meskipun Mulla ‘Umar mempunyai kesalahan-kesalahan signifikan secara syar’ī yang tidak disadari oleh Fadhlullah.

Saya memutuskan untuk kembali ke Miransyah untuk memberitahu ikhwan di Tanzhim Al-Qa’idah dan qiyādah-nya – demi harga diri dan kehormatan serta hasrat untuk menasihati mereka – setelah saya memutuskan untuk meninggalkan Waziristan utara dan memasuki Afghanistan, sehingga dapat keluar sepenuhnya dari wilayah tersebut. Akan tetapi, Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik bagiku. Maka, aku kembali ke Waziristan tengah.

Tatkala tiba di Miransyah, saya menulis sebuah pesan kepada Lajnah Bukhara (Komite Bukhara – sebuah komite administratif milik qiyādah Al-Qa’idah dibentuk setelah terbunuhnya ‘Athiyatullah dan Abu Yahya Al-Libi raḥimahumā Llāh). Aku menjelaskan apa yang terjadi dan menjelaskan pandanganku mengenai masa depan Waziristan serta masuknya tentara Pakistan yang tidak bisa dihindari ke wilayah-wilayah tengah setelah secara menyeluruh menguasai bagian utara. Aku lampirkan ke dalam surat satu salinan berisi bantahanku yang telah kutulis terhadap pesan yang disampaikan oleh Mulla Muhammad ‘Umar sebelumnya. Ini untuk mengingatkan para ikhwan bahwa medan perang sekarang berada di antara palu nasionalisme dan blok kesukuan di Afghanistan dan Waziristan. Sayangnya, aku tidak mendapatkan jawaban apa-apa dari Tanzhim atas pernyataan ini.

Sejumlah masalah terjadi di lapangan selama enam bulan ketidakhadiranku di utara Waziristan. Masalah-masalah tersebut membuat Tanzhim berada di jurang kehancuran. Masalah yang paling nyata adalah kasus yang melibatkan anak-anak ikhwan Tanzhim. Mereka adalah putera-putera syuhada’ (kamā naḥsabuh), putera-putera para pemimpin. Mereka terjatuh dalam perbuatan fāḥisyah (sodomi) yang mengarah ke spionase (sebagaimana juga terjadi di Sudan dan yang lainnya). Pengkhianatan mereka menyebabkan terjadinya sepuluh kali serangan udara yang membunuh banyak ikhwan. Kami menentang atas diamnya Tanzhim dan menekan agar mereka diadili oleh Tanzhim lepas dari Imarat Afghanistan. Akan tetapi, Tanzhim bersikeras untuk mendatangkan seorang hakim dari Imarat, mengklaim bahwa Tanzhim berada di bawah Imarat dan mereka telah berbai’at. Permintaan kami untuk mengadakan sidang peradilan yang dibuat oleh Tanzhim lepas dari Imarat disebabkan adanya perbedaan antara kami dan Imarat – karena fanatisme madzhabnya – dalam menetapkan hukuman terhadap mata-mata dan sodomi.[7]

Imarat menolak untuk menyelidiki masalah ini dan justru menyerahkannya kembali kepada Tanzhim.[8] Cerita tentang para pemuda yang terlibat dalam kasus tersebut menyebar ke mana-mana, membuat Tanzhim jadi bahan olok-olokan. Muncul berbagai pertanyaan dari mujahidin dan penduduk. Mengapa Tanzhim menunda persidangan mereka? Mengapa Tanzhim bersikeras terhadap hal ini? Mengapa Tanzhim melepaskan para pelaku kasus tersebut dari penjara sebelum hukuman diputuskan?

Pada saat yang sama, para ikhwan yang bergerak dari utara Afghanistan ke arah Miransyah bertemu dengan kami. Mereka dalam perjalanan menuju Daulah Islam. Pada saat itu, Daulah menjadi sorotan mata dan pertanyaan, karena saya tidak begitu banyak mendengar perihal itu sebelumnya. Saya tidak tahu banyak mengenai Daulah disebabkan lemahnya internet di wilayah tersebut. Informasinya sangat lambat dan ruwet. Satu-satunya sumber informasi mengenai Syam adalah Tanzhim itu sendiri. Mereka tidak ingin menunjukkan kepada orang lain apa pun mengenai Daulah, seolah-olah tidak pernah ada. Demikian pula, ketika Daulah Islam Irak diumumkan oleh Amirul Mu’minin Abu ‘Umar Al-Baghdadi raḥimahu Llāh, sorotan tidak terfokus padanya. Media kufur benar-benar menyembunyikannya dari pandangan umum. Selain itu, pada waktu itu kami juga ditahan di Iran, sama sekali terputus dari dunia luar. Kami memandangnya seolah-olah sebuah kelompok kecil atau organisasi dengan beberapa aksi yang terjadi di sana sini, hanya dikarenakan adanya tabir yang menyembunyikan informasi mengenai aksi-aksi mereka. Bahkan ketika Daulah melanjutkannya di bawah kepemimpinan Amirul Mu’minin Abu Bakar Al-Baghdadi ḥafizhahu Llāh, penjara menjadi penghalang. Demikian pula, informasi media yang datang dari Daulah atau mengenai Daulah sedikit.

Bahkan sayangnya, ketika Daulah memasuki Syam lewat frontnya, Jabhah An-Nushrah, umat Islam tidak mengetahuinya disebabkan keamanan dan program media milik Daulah. Persoalan semakin buruk dan menjadikannya semakin kompleks dan samar-samar. Selain itu, problem mengenai konflik kami dengan Tanzhim di wilayah Waziristan menyebabkan aku tidak menaruh perhatian atas apa yang sebenarnya tengah terjadi di Suriah.

Akan tetapi, Allah merahmatiku dengan kedatangan ikhwan dari Waziristan utara yang berpengalaman dalam menggunakan internet. Semoga Allah mengganjar mereka dengan kebaikan. Gambaran mulai tampak jelas bagiku. Demikian pula dengan visi yang jelas dan kebenaran yang nyata mengenai Daulah Islam. Daulah Islam ini – dengan rahmat Allah – merupakan karunia dari Allah yang menjadi alternatif atas chaos yang terjadi di lapangan pada saat itu.

8

Konflik dengan Tanzhim semakin parah. Kami menulis surat kepada Tanzhim, mendorong mereka untuk menyidangkan kasus para tersangka. Setelah menekan mereka dan mendorong mereka dengan surat bernada keras langsung ke Lajnah Bukhara, pimpinan majelis dan salah seorang anggotanya – Al-Basya (Al-Bahiti) – bertemu denganku. Selama pertemuan, dia menjelaskan penolakannya untuk mendirikan peradilan yang lepas dari Imarat dan jauh dari fanatisme madzhab. Dia mengatakan mengenai persoalan yang berkaitan dengan kasus tersebut, bahwa suatu hal yang bodoh mengadili individu yang tertuduh karena tidak dilandasi kebijaksanaan dan para pelaku tidak mengakui kejahatan mereka, dan konsekwensinya para penuduh akan dijilid… Para penuntut adalah kepala Majelis Keamanan dan asistennya. Kemudian setelah terjadi tarik-menarik dan meminta para tersangka dikembalikan ke penjara dan diadili, ia mengatakan agar keluar dari persoalan rumit yang dihadapinya, “Kita akan mengumpulkan mereka semua. Itu hal yang mudah. Lalu kita akan mengadili mereka. Lalu kita akan membebaskan mereka.”

Pertemuan akhirnya berakhir setelah Al-Basya menyetujui untuk membujuk ikhwan di Lajnah Bukhara agar menahan para tersangka dan mengadili mereka. Pada waktu yang sama, persoalan Daulah Islam mulai mempengaruhi terhadap apa yang terjadi di sini (Daulah Islam telah berkonsolidasi dan menegakkan hukum; hal sebaliknya dengan kondisi Tanzhim). Kasus yang melibatkan tersangka mulai menemui jalan buntu, karena Tanzhim menyatakan ketakutannya terhadap ibu-ibu para tersangka. Mereka mengatakan bahwa ibu-ibu itu bisa saja mengontak media asing dan mengadakan aksi protes di jalan-jalan di Miransyah dan menghasut penduduk melawan Tanzhim. Al-Basya lalu berkata bahwa Tanzhim sudah tidak bisa menangani persoalan ini.

9

Masalah Al-Jaulani dan penkhianatannya terhadap amirnya mulai diperbincangkan. Gambaran semakin jelas seiring dengan apa yang tengah berlangsung dengan Tanzhim.

Dengan melihat ke belakang, jelas tampak bagiku bahwa pengosongan wilayah Waziristan memang sengaja dilakukan oleh Tanzhim. Aku ingat bagaimana Abu ‘Ubaidah Al-Maqdisi, pada awal pergerakan jihad di Suriah, akan meletakkan tangannya di atas tangan para muhajirin yang pergi Suriah. Dia meminta mereka untuk berbai’at yang diperkirakan akan diberikan kepada Jabhah An-Nushrah, yaitu pada saat Jabhah An-Nushrah belum memisahkan diri dari Daulah dan waktu itu belum banyak kelompok di lapangan. Kelompok yang paling menonjol pada waktu itu adalah rezim Asad, Free Syrian Army (FSA), dan Jabhah An-Nushrah. Hal ini adalah teka-teki bagiku yang tidak aku pahami pada waktu itu. Mengapa ada orang yang menyuruh mujahid pergi ke Syam untuk memberikan bai’at kepada Jabhah An-Nushrah, padahal dia sendiri berkata lantang untuk tidak akan pergi ke mana-mana? Abu ‘Ubaidah Al-Maqdisi secara berulang akan membuat pernyataan, “Kita akan membangun tempat bagi kita di wilayah itu.” Hal ini seolah-olah dia hendak mengikat para mujahid kepada Jabhah An-Nushrah karena adanya rencana yang disusun oleh Tanzhim untuk masa yang akan datang.

Apa yang dilakukan Al-Jaulani setelah itu, termasuk penolakannya untuk menerima perluasan Daulah Islam ke Syam, hanyalah makar yang jelas dari Aiman Azh-Zhawahiri dan kroni-kroninya yang meninggalkan wilayah Waziristan. Kroni-kroninya ini membawa pesan rahasia dan pribadi yang melibatkan Azh-Zhawahiri dengan Al-Jaulani dalam usaha mereka membangun tempat bagi Tanzhim Al-Qa’idah di Syam dengan mengorbankan Daulah Islam. Buktinya adalah langsung diterimanya bai’at Al-Jaulani oleh Azh-Zhawahiri. Azh-Zhawahiri juga meminta amir Daulah Islam untuk kembali ke Irak “sebagai pertukaran” atas “pengakuannya” terhadap Al-Baghdadi sebagai amirul mu’minin dan negaranya sebagai sebuah daulah Islam. Semua ini jika Amirul Mu’minin jadi kembali ke Irak. Jika tidak, maka negaranya dipandang sebagai negara Khawarij dan Azh-Zhawahiri tidak akan “mengakuinya” sebagai amirul mu’minin.

Azh-Zhawahiri terus muncul di media, memperlihatkan dirinya sebagai domba yang lemah lembut terhadap masalah Daulah dan pembai’atan. Ia bersikeras karena mempunyai “hak” atas kepemimpinan dan “kewajiban” untuk didengar dan ditaati. Ia mulai menggambarkan Daulah dan pemimpinnya memiliki sifat-sifat paling buruk, sehingga Daulah menjadi target bagi semua orang yang membawa senjata di Syam. Daulah telah masuk ke dalam labirin pemikiran Azh-Zhawahiri setelah ia memasukkan banyak orang ke dalam perangkap pemikirannya yang berbelit-belit. Pemikiran-pemikirannya bertentangan dengan jihad dan pengangkatan senjata. Ia malah menganjurkan manhaj cinta damai [protes yang tiada akhir] dan mencari dukungan manusia. Semua ini mengarah pada munculnya Fir’aun-Fir’aun baru yang mengambil alih Mesir dan negara-negara lain.

Di sana akan terjadi banyak wanita, anak-anak, dan pria yang terbunuh tanpa alasan yang benar. Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain turun ke jalan-jalan, lapangan-lapangan, dan plaza-plaza, mempraktekkan politik baru yang diserukan Azh-Zhawahiri. Dan semua orang yang sama dengan dia, yaitu yang mengklaim bahwa apa yang dilakukan oleh para pemrotes, adalah jihad sebenarnya yang akan mengubah kezhaliman menjadi keadilan dan kufur menjadi Islam. Karena dia, kebenaran tidak lagi bisa dibedakan dari kebatilan. Si Thaghut [Mursi] dipuji dan tawaran dibuat untuknya, sementara kebenaran dan orang-orangnya dicela. Dengan demikian, ia telah menghancurkan Tanzhim Al-Qa’idah.

10

Pada saat yang sama, Tanzhim tidak mengumpulkan para tersangka yang telah disebutkan sebelumnya mengenai kejahatannya [spionase dan sodomi]. Akan tetapi, mereka mengadakan kamp-kamp khusus bagi para tersangka di antara kamp-kamp Tanzhim yang disebut dengan Katibah Usamah ibnu Zaid radhiya Llāhu ‘anhumā. Dua orang mata-mata – anak-anak dari dua pemimpin Tanzhim – yang termasuk di antara para tersangka, dibunuh oleh Majelis Keamanan setelah Majelis bersaksi untuk mengabaikan kepemimpinan Tanzhim terhadap kasus mereka. Hal ini menimbulkan kegemparan di dalam Tanzhim, yang sejak itu tidak berhenti, terlepas dari fakta Majelis Keamanan membunuh mereka setelah faksi Shiddiqullah dengan bantuan faksi Gud ‘Abdurrahman – yang mempunyai hubungan dengan intelijen Pakistan dan mempunyai peran dalam merekrut kedua mata-mata itu – berusaha membebaskan mereka dari penjara. Majelis Keamanan diusir dari Tanzhim, dikeluarkan dari wilayah tersebut, dan dipaksa untuk tetap berada di dalam rumah.

Karena terus-menerus ditekan oleh Majelis Keamanan dan banyak ikhwan, Tanzhim akhirnya dipaksa untuk membawa kasus kepada Al-Akh Abu Malik At-Tamimi yang telah sampai di Miransyah setelah datang dari Nuristan, Afghanistan, dalam rangka perjalanannya menuju Daulah Islam. Al-Akh Abu Malik menilai bahwa darah kedua mata-mata itu sah secara hukum.

Sebelum hijrah ke Syam, saya dan sejumlah ikhwan yang kelak akan menandatangani deklarasi bai’at kepada Daulah Islam, memutuskan untuk menyatakan perang melawan Tanzhim Al-Qa’idah dengan cara mengeksposnya, setelah semua jalan menuju resolusi tertutup. Kami – baik itu Arab maupun non-Arab, muhajirin maupun anshar – memulainya dengan mempertanyakan apa yang tengah terjadi di lapangan, maka kami membuat daftar pertanyaan untuk Tanzhim sehingga bisa bereaksi terhadap mereka. Dan reaksi-reaksi ini akan menjadi pertemuan final yang akan mengakhiri hubungan kami dengan Tanzhim.

Tanzhim berusaha untuk meredakan kemarahan kami dengan membeli hati kami dengan jabatan dan harta, namun atas karunia Allah, mereka gagal.

Adapun permintaan yang diajukan adalah:

1) Tanzhim menuliskan aqidahnya, khususnya pandangannya terhadap Rafidhah.

2) Memberikan alasan syar’i atas do’a Azh-Zhawahiri kepada thaghut Mursi.

3) Alasan Azh-Zhawahiri menuduh Daulah Islam sebagai Khawarij.

4) Alasan untuk mengubah bentuk jihad dari perang menjadi demonstrasi yang damai dan demi meraih dukungan masyarakat.

Tidak ada jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini, bahkan sampai mujahid terakhir meninggalkan wilayah Miransyah, di mana pada bulan Juni 2014 militer Pakistan memasuki wilayah tersebut dan menutupnya. Pada saat itu, detik itu, ketika kami memberikan cukup waktu bagi Tanzhim untuk berpikir kembali dan bermuhasabah atas kesalahan-kesalahan dan kezhaliman-kezhalimannya, Azh-Zhawahiri sayangnya, menggiring Tanzhim ke dalam lobang, bahkan sampai artikel ini ditulis.

Kami memisahkan diri kami dari Tanzhim Al-Qa’idah dan dari penyimpangan-penyimpangan syar’i yang dibuat oleh Azh-Zhawahiri, lalu berbai’at kepada Daulah Islam dan amirnya, Amirul Mu’minin Abu Bakar Al-Baghdadi. Ini disebabkan penggabungan antara tauhid dan syari’at yang kami lihat, sesuatu yang selama ini kami cari, dirindukan oleh jiwa seseorang, menyenangkan hati, dan menenangkan pikiran. Hal inilah yang memaklumatkan akhir dari perjalanan untuk mencari kebenaran, yaitu jalan jihad yang benar dan jalan jama’ah yang akan membawa seseorang ke Firdaus, biidzni Llāh.

Ya, kami berbai’at kepada Amirul Mu’minin Abu Bakar Al-Baghdadi setelah sebelumnya saya telah memberikan bai’at imarah kepada Mulla Muhammad ‘Umar dan berbai’at kepada Syaikh Usamah. Demikian pula, saya berbai’at kepada Dr. Aiman Azh-Zhawahiri. Hanya karena batalnya syarat-syarat bai’at yang dilakukan oleh Mulla Muhammad ‘Umar dan Dr. Aiman Azh-Zhawahiri, yaitu berupa risalah rusak yang ditulis oleh Mulla Muhammad ‘Umar kepada kaum Muslim pada Hari Raya Islam. Adapun untuk Azh-Zhawahiri, maka alasannya adalah penolakannya untuk menerapkan hukum syari’at (dengan argumentasi yang lemah, seperti dalil “manfaat”) dan bersikeras untuk itu. Selain itu, dia menutup mata terhadap pelanggaran-pelanggaran syari’at berbahaya yang dilakukan amirnya Mulla Muhammad ‘Umar. Dan karena hal itu, saya tidak bisa disalahkan dan mereka tidak mempunyai hak untuk didengar dan ditaati.

Kemudian Tanzhim terlihat bagai banteng yang mengamuk, tersandung ke sana kemari, sementara kroni-kroninya menyebar, pergi ke setiap tempat dan menemui setiap orang, baik itu mujahidin ataupun bukan, dan kelompok ataupun individu. Mereka berusaha dalam keputusasaan untuk menyelamatkan lembaga yang tengah tenggelam dan berjuang untuk bernafas di air yang dalam, sementara ia sudah kehabisan tenaga dan capek karena kelelahan dan perjuangan di dalam air.

Mereka membuat kebohongan-kebohongan atas kami dan menggambarkan kami dalam bentuk paling kasar: takfiri, Khawarij, pembunuh Muslimin, Wahhabi… dan mereka akan memperingatkan manusia bahwa kita adalah pembunuh yang akan membantai mereka.

Kemudian Tanzhim Al-Qa’idah mulai memainkan fanatisme madzhab, terutama karena masyarakat bermadzhab Hanafi. Mereka juga mengklaim bahwa dengan bai’at ini kami mengumumkan peperangan dengan mereka, madzhab mereka, dan amir mereka. Selain itu, kehadiran kami di wilayah itu sebagai tentara Daulah Islam merupakan penyimpangan bagi mereka dan amir mereka.

Berkat karunia Allah, manusia mulai berduyun-duyun ke arah kami untuk mencari jawaban atas berbagai pertanyaan. Sebagian berusaha memperoleh informasi dan sebagian lainnya berusaha mendapatkan klarifikasi atas beberapa syubhat yang disebarkan oleh Tanzhim di antara mereka.

Beberapa ikhwan – semoga Allah membalas mereka – mulai berkomunikasi lewat internet, memperoleh gambar yang diambil dari dalam Daulah Islam, memperlihatkannya kepada penduduk, dan menunjukkan video-video yang dirilis di restoran-restoran dan warung-warung kopi. Ini bisa menjadi sebuah dakwah bagi mereka dan sarana untuk memberikan penerangan tentang Daulah Islam, jihad sebenarnya yang diembannya, serta penaklukan-penaklukan yang Allah berikan. Hal ini mampu memberikan pengaruh positif, baik kepada pihak Anshar maupun penduduk umumnya. Dan ini, dengan rahmat Allah, berkontribusi untuk mengguncang Tanzhim dan orang-orang yang tidak peduli dengan rilisan-rilisan videonya, yang sebenarnya mereka sudah keropos.

Demikian pula, kelompok-kelompok mujahid di wilayah tersebut mulai membahas beberapa proposal Tanzhim yang terkait dengan paham cinta damai dan mencari dukungan, jihad yang diusung oleh Daulah Islam, dan gagasan mengenai demonstrasi damai yang diusung Tanzhim dengan mengorbankan jihad yang tidak akan bisa melenyapkan thaghut atau menghilangkan kezhaliman dari leher rakyat. Justru itu merupakan sumber besar kehancuran. Apa yang terjadi malah terbunuhnya wanita dan anak-anak di lapangan umum dan jalan-jalan di tangan para tentara dan polisi thawaghit, sementara para pembunuh tidak dihukum atas perbuatannya. Sesungguhnya pemikiran seperti inilah yang menciptakan Fir’aun-Fir’aun baru.

Kroni-kroni Al-Qa’idah mengangkat suara mereka. Mereka mengumumkan perang tanpa rasa takut dan malu, karena Tanzhim dengan segera memotong tunjangan bagi keluarga ikhwan yang telah menandatangani bai’at tanpa mempertimbangkan kehadiran wanita, anak-anak, dan orang sakit. Dengan demikian, harta donasi yang diberikan oleh para dermawan kepada Al-Qa’idah dan para anggotanya yang ditujukan untuk mengangkat jihad, sehingga Allah menerimanya dari mereka sebagai shadaqah, kini telah diputus oleh Azh-Zhawahiri. Apa yang dilakukannya terhadap mereka yang berhak menerimanya adalah tanpa alasan yang jelas, selain karena hasrat mereka kepada kebenaran, mendukung kebenaran, dan menegakkan agama. Sebaliknya, Azh-Zhawahiri memanfaatkannya untuk memerangi kebenaran dan orang-orangnya, subhanallah! Dia akan menemui Allah dalam kondisi seperti itu, jika dia tidak bertaubat dan kembali ke keadaan semula. Dan tidak ada tabir antara Allah dan do’a orang yang dizhalimi.

Tanzhim Al-Qa’idah tidak berhenti sampai di situ. Akan tetapi, orang-orangnya pergi ke kelompok Uzbekistan (kelompok Thahir Jan) dan amir mereka ‘Utsman, terlepas dari adanya keretakan di antara mereka karena peperangan yang terjadi di kota Wana pada akhir tahun 2008. Tanzhim Al-Qa’idah pada waktu itu melepaskan dukungannya kepada kelompok tersebut, yaitu ketika kelompok Uzbek itu memerangi tentara Pakistan dan sekutunya Nadzir. Mereka beralasan bahwa kelompok Uzbek tersebut takfiri, Khawarij, dan ekstrimis. Akibatnya, banyak anggota kelompok Uzbek terbunuh. Kelompok tersebut diusir secara paksa dari Wana, Waziristan selatan. Mereka kemudian pindah ke Mir ‘Ali dan Miransyah. Tanzhim Al-Qa’idah berupaya untuk meminta mereka agar menentang ikhwan yang berbai’at kepada Daulah Islam, namun Tanzhim kembali tanpa hasil.

11

Mereka bertemu dengan kelompok Rushin dan berbicara dengan amir mereka Hamidullah, sebagaimana juga dengan anggota kelompok lainnya. Mereka bertemu kelompok Uzbek di Afghanistan. Mereka bertemu para ikhwan Tajikistan dan amir mereka ‘Abdul Wali. Mereka bertemu dengan Haji Basyir dari kelompok Uzbek. Mereka bertemu dengan ikhwan dari kelompok Turkistan. Mereka bertemu dengan Al-Akh ‘Abdullah Asy-Syisyani dari kelompok yang berafiliasi kepada Imarat Islam Qauqaz di Miransyah. Mereka bertemu dengan sekutu Al-Qa’idah, jaringan Haqqani, yang merupakan perwakilan dari Imarat Afghanistan – Imarat Mulla Muhammad ‘Umar. Mereka bertemu beberapa ikhwan Tahrik (Pakistan).

Tidak ada satu kelompok pun kecuali mereka temui dengan tujuan untuk mengalienasi mereka dari kami dan dari Daulah Islam dan menghasut mereka melawan kami. Akan tetapi, usaha mereka gagal. Justru sebaliknya, banyak dari mereka yang dibujuk telah memberikan bai’at kepada Daulah Islam ataupun tengah bersiap untuk melakukannya.

Tanzhim bertemu dengan perwakilan Imarat yang ikut merekrut mata-mata untuk Amerika dan intelijen Pakistan, Gud ‘Abdurrahman, dalam upaya untuk merekonsiliasi antara Gud ‘Abdurrahman dan Al-Qa’idah setelah usaha pembunuhan yang gagal terhadap Gul ‘Abdurrahman. Buah dari rekonsiliasi ini ialah mereka bersama-sama berangkulan setelah Gud ‘Abdurrahman menyatakan bahwa perangnya adalah terhadap orang-orang yang ingin membunuhnya, dan ia tidak menunjuk kepada Tanzhim Al-Qa’idah. Akan tetapi, ia menunjuk kepada mantan Majelis Keamanan Tanzhim yang telah diusir oleh Thaliban dan berbai’at kepada Daulah Islam.

Tanzhim Al-Qa’idah menerima perwakilan Anshar Al-Islam [Irak] yang bertujuan untuk melakukan operasi gabungan di Irak bersama dengan Tanzhim melawan Daulah Islam. Tanzhim mulai memfasilitasi perwakilan tersebut untuk bertemu dengan anggota-anggota Tanzhim Al-Qa’idah Kurdi dengan membawa mereka turun dari gunung ke kota Miransyah untuk melakukan konsultasi dan perencanaan. Konsultasi dan perencanaan ini bertujuan untuk menghimpun personil Tanzhim Kurdi, baik militer maupun syar’ī, untuk membantu mereka dalam pelatihan di Afghanistan dan operasi di Irak setelah melewati Iran. Mereka memproduksi video berjudul “Kamp Latihan Mulla Ghazi ‘Abdir-Rasyid”. Mulla Ghazi dibunuh oleh militer Pakistan di Islamabad. Kami menganggapnya bagian dari syuhada’, dan Allahlah yang menilainya. Allah menggagalkan makar mereka, karena Anshar Al-Islam mengumumkan bai’at mereka kepada Daulah Islam. Demikian pula, futuḥāt besar yang Allah berikan kepada Daulah Islam di Mosul dan tempat-tempat lain tidak lain kecuali sebagai penghalang atas rencana jahat Tanzhim.

Sungguh hatiku menjadi sejuk tatkala mengingat kembali kelompok Punjab yang jujur meninggalkan Tanzhim Al-Qa’idah. Mereka meninggalkan di belakang segala yang tersisa dari Tanzhim, agar dipermainkan oleh Azh-Zhawahiri dan kelompok Sufi Punjab yang dipimpin oleh dua orang dari sekte Deobandi, ‘Ashim ‘Umar dan Ahmad Faruq. Mereka itulah yang diserahkan Tanzhim untuk mengelola pusat urat syaraf organisasi tersebut, yaitu As-Sahab Media dalam bahasa Urdu, menghancurkan semua yang tersisa. Sang insinyur Tanzhim, Mukhtar Al-Maghribi – penghubung antara Tanzhim dan kedua orang Deobandi Punjab – mengubah Tanzhim Al-Qa’idah menjadi sebuah Tanzhim beraliran Deobandi dengan nama “Tanzhim Al-Qa’idah di Negeri India”.[9] Lalu mereka menjauhkan diri dari personil muhajirin, tidak merasa butuh kepada mereka.

Ya Allah, akhirilah semua rencana yang berusaha memerangi Daulah Islam. Ya Allah, cerai-beraikan setiap rencana dan musnahkanlah. Aku memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa, Rabb Al-‘Arsy yang agung, agar memelihara Daulah dan menolongnya, membimbing langkah-langkah amirnya di atas kebenaran, mengangkat tinggi panjinya, dan mengizinkan kami untuk menginjak-injak dengan kaki kami setiap orang yang menunjukkan permusuhan dengan kami dan memerangi agama kami. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pendengar do’a.

Dan penutup do’a kami adalah segala puji bagi Allah, Tuhan Pencipta alam semesta.

Saudara kalian, pencari kebenaran – dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati,

Abu Jarir Asy-Syamali

19 Syawal 1435 H (15 Agustus 2014)

NB: Untuk artikel “The Qā’idah of adh-Dhawāhirī, al-Harārī, and an-Nadhārī, and the Absent Yemeni Wisdom”, telah diterjemahkan oleh Al-Akh Muqotil dengan judul “Al-Qa’idah Azh-Zhawahiri dan Hikmah yang Hilang” di bagian lain dari blog ini (http://thelastkhilafah.blogspot.com/2014/12/miscellaneous_10.html) yang diambil dari http://khilafahdawlaislamiyyah.wordpress.com. [atau bisa dibaca juga di http://ummatifajrun.wordpress.com/2014/12/08/al-qaeda-dzawahiri-dan-hikmah-yang-hilang/ ]

Diterjemahkan oleh: Mahmud Az-Zanki

Sumber: DABIQ Magazine Issue #6

Follow us on twitter: @TheLastKhilafah

[1] Catatan Editor: Adanya perbedaan aqidah dan manhaj secara historis antara Abu Mush’ab dan Tanzhim terlihat pada kata-kata yang diucapkan oleh seorang petinggi Al-Qa’idah – Saif Al-‘Adl – yang berkata, “Titik-titik perbedaan kami dengan Abu Mush’ab bukanlah sesuatu yang baru bagi kami dan bukan sesuatu yang aneh, karena ratusan ikhwan sudah biasa datang kepada kami dari berbagai tempat di dunia, dan kami bisa berbeda dengan mereka dalam beberapa perkara dan permasalahan. Semua ini terkait dengan perbedaan pemahaman terhadap sejumlah aspek aqidah yang berhubungan dengan walā` dan barā` dan karena itu mengharuskan adanya permasalahan takfir dan irja’. Perkara kedua adalah bagaimana bertindak dan bersikap terhadap keberadaan umat saat ini, setiap mujahid di wilayahnya, dan negeri asalnya. Poin paling penting bagi Abu Mush’ab adalah sikap terhadap hukum Saudi dan metode untuk menghadapi dan mengatasinya dengan cahaya hukum syari’at yang berhubungan dengan kufur dan iman” [Tajribatī Ma’ Abī Mush’ab az-Zarqāwī]. Perhatikan bahwa Saif Al-‘Adl mencoba untuk mengecilkan pentingnya masalah perbedaan ini.

[2] Catatan Editor: Kedua ikhwan ini termasuk sahabat senior Syaikh Az-Zarqawi. Semoga Allah membebaskan keduanya dari penjara.

[3] Catatan Editor: Pernyataan Mulla ‘Umar, sebagaimana juga pendukung dan imaratnya, merujuk pada kutipannya dalam artikel pada edisi ini berjudul “The Qā’idah of adh-Dhawāhirī, al-Harārī, and an-Nadhārī, and the Absent Yemeni Wisdom.”

[4] Catatan Editor: Istilah ini bermakna “mahasiswa” dalam bahasa Pashto dan digunakan untuk merujuk pada kelompok mana pun yang terlihat sebagai “siswa” walaupun mereka tidak masuk dalam satu lembaga atau bahkan mereka saling berperang satu sama lain.

[5] Catatan Editor: Kelompok ini tidak ada kaitannya dengan Anshar Al-Islam Irak.

[6] Catatan editor: Lihat catatan kaki sebelumnya.

[7] Catatan Editor: Para hakim Imarat beraliran Deobandi (Maturidi Hanafi). Mereka memiliki pemikiran irja’ dalam menghukumi mata-mata “Muslim” yang murtad dengan membantu kuffar melawan Muslimin. Mereka juga mempunyai had yang kurang keras atas perbuatan keji ini sebagaimana perbuatan sodomi dibandingkan dengan madzhab fiqh lainnya. Pada hakikatnya, Tanzhim memaksa untuk mengembalikan persoalan ke Imarat hanya untuk mencegah hukuman mati terhadap pelaku. Atas dasar ini, penulis dan ikhwan-ikhwan lainnya meminta sebuah pengadilan yang diatur oleh Tanzhim yang independen, lepas dari Imarat.

[8] Catatan Editor: Dengan ini, Tanzhim tidak memiliki alasan lagi untuk tetap berada di bawah sayap Imarat karena mengelak untuk menyidangkan kasus tersebut secara langsung.

[9] Catatan Editor: Kesaksian ini dibuat oleh penulis sebelum diumumkannya Tanzhim cabang India. Lihat dalam edisi ini pada artikel “The Qā’idah of adh-Dhawāhirī, al-Harārī, and an-Nadhārī, and the Absent Yemeni Wisdom”, karena berisi pernyataan dari Imarat – demikian yang dikatakan Tanzhim – bertentangan dengan apa yang disebut dengan “ekspansi” Tanzhim.

Sumber:

advertisement

Google+ Followers

Popular Posts week

Popular Posts

Blog list of options.