advertisement

Khamis, 8 Januari 2015

Bentuk Kecintaan Kepada Rasulullah dan Hukuman Mati bagi Penghina Rasulullah

Hukuman Mati bagi Penghina Nabi

Kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali difahami hanya sebatas teori semata, atau tidak tampak bagaimana gambaran nyata dari kecintaan tersebut. Membaca sholawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menjungjung tinggi serta mengikuti sunnah tuntunan beliau adalah termasuk kecintaan ini. Namun kecintaan para shahabat dibuktikan lebih dari hanya sekedar itu,mereka membuktikannya dengan jiwa dan raga. Mereka menjadikan nyawa mereka sebagai tebusan untuk manusia yang paling mereka cintai….. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam


Adalah Abu Ubaidah bin al-jarroh ra seorang diantara shahabat yang setia melindungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari gempuran orang kafir quraiys di perang uhud. Dalam suasana pertempuran yang sengit ditengah-tengah kesibukannya membabat musuh-musuh ALLÂH, pandangan matanya selalu siaga untuk senantiasa memperhatikan keberadaan dan nasib Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Matanya bagai rajawali yang tajam melihat gerak gerik mangsanya. Jika musuh berusaha mendekat kekasihnya untuk menghabisinya, iapun segera mendobrak barisan musuh dan membabatnya. Ia tidak rela jika hidup Nabi pembawa risalah ini berakhir ditangan orang-orang kafir. Dan nyatalah, disaat-saat suasana yang kalut pada pertempuran uhud, ketika barusan kaum muslimin kacau balau dan terdesak, dan bahkan sebagian muslimin lari mengundurkan diri dari kancah pertempuran, sungguh dalam suasana ini orang-orang musyrik memiliki kesempatan emas untuk menghabisi nyawa Nabi kita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Suasana bahaya ini menuntut keberanian dan kesetiaaan dalam menjaga kehormatan islam. Abu Ubaidah adalah diantara sosok yang tampil sebagai pahlawan yang kesatria diantara shahabat-shahabat utama yang melindungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kala itu. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kondisi bahaya saat itu, Abu Ubaidah sendiri sedang terkepung oleh musuh. Namun dengan ketajaman matanya dan kecintaannya kepada Nabi yang mulia, maka ia segera melompat untuk menyelamatkan jiwa kekasihnya. Pedangnya ia babatkan laksana pedang berkekuatan 100 pedang. ia ceraiberaikan pasukan musuh yang mengepungnya agar bisa segera sampai ditempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Sesampai di dekat Nabi dan membabat musuh yang mengepung beliau Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia kini mendapatkan beliau dengan darahnya yang mengalir dari mukanya yang mulia. Ia melihat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menghapus darahnya yang suci dengan tangan kanannya seraya bersabda,“Bagaimana mungkin suatu kaum akan bahagia, ketika mereka telah mencemari wajah Nabi mereka, padahal ia menyeru mereka kepada ROBB mereka ….?”. Abu Ubaidah ra merasa pilu ketika ia melihat dua mata rantai baju besi penutup kepala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menancap dipipinya yang mulia. Hatinya merasa teriris sekaligus marah terhadap kelakuan orang-orang kafir yang telah berbuat lancang kepada Nabinya. Lalu (setelah mendapat restu dari Abu bakar ash-shiddiq ra) iapun segera menariknya dengan menggunakan gigitan gigi-giginya, saat itulah pipinya menempel dengan pipi beliau yang mulia. Ia menarik besi yang menancap itu sekuat tenaga. Besi itupun tercabut dari pipi Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam tetapi berbarengan dengan itu tercabut pulanya satu gigi dari gigi manis Abu Ubaidah ra, darahpun mengalir membasahi pipinya… Kemudian untuk yang kedua kalinya, ia menarik besi yang kedua dengan gigi-giginya, maka tercabutlah besi itu dari pipi Nabi yang mulia, tetapi seperti yang pertama, bersamaan dengan lepasnya besi dari pipi Nabi, tercabut pula gigi manis pahlawan kita ini. Iapun menjadi shahabat yang memiliki gigi ompong setelah hari itu, namun gusi-gusi itu menjadi saksi atas pengorbanannya… darahnya yang mengalir menjadi saksi atas kecintaannya kepada Manusia yang paling dicintainya ini.

Lihatlah pula bagaimana kecintaan yang serupa ditunjukkan oleh seorang wanita dari kalangan shahabat. Nusaibah binti Ka’ab ra. Dalam peperangan yang sama, Uhud, ia telah membuktikan kecintaan dan pengorbanan yang tiada tara. Pada mulanya sebenarnya keikutsertaannya dalam kafilah mujahidin saat itu sebagai tenaga medis di bagian belakang pasukan islam. Namun tatkala suasana menjadi genting dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan bahaya, iapun bergegas menuju posisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , dengan cekatan ia menangkap sebilah pedang yang dilemparkan mujahidin. Bersama suami dan kedua anaknya ia bertempur disekitar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam beserta kelompok kecil yang melindungi kekasihnya yang mulia. Ia ayunkan pedangnya kesana kemari,… ia babatkan pedangnya kepada siapapun musuh yang mendekat, ketika seorang pasukan musuh berkuda datang menghampiri dan mengayunkan pedang kearahnya iapun menangkisnya dengan perisainya, lalu dengan cergas ia membabat kaki kuda musuh,hingga kudapun terjatuh. Nabi berseru kepada anaknya, “Bantulah ibumu… dia telah menolongku membunuh tentara musuh !” . Ketika anaknya terluka, ia membalut luka anaknya, dan setelah itu ia memberi semangat kepada anaknya, “Bangkitlah nak,… hantamlah pasukan musuh itu !”.

Ketika musuh yang melukai anaknya mendekat lagi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “dialah orang yang telah melukai anakmu !”. Maka dengan sigap, ibu kita ini menolehnya lalu menyerangnya, ia tebaskan pedangnya ke arah kaki musuhnya, hingga tersungkur. Iapun bahagia tiada tara, dan kebahagiaannya bertambah dengan ucapan dan senyuman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu yang berkata kepadanya, “engkau telah membalasnya !”. Ia merasa gembira karena dapat membela kemuliaan islam dan melindungi nabinya dan kekasihnya, ia tidak merasakan betapa letih tubuhnya kala itu dengan keringatnya yang bercucuran, dan darahnya yang mengalir dari tubuhnya . 13 luka telah menganga disekitar tubuhnya dalam pertempuran itu, dan menjadi saksi atas pengorbanannya.

Saat Pasukan muslimin berangkat untuk mengepung Bani Quraizhah, ia ikut serta dalam pasukan ini. Perang melawan kaum yahudi bani Quraizhah ini tidak menyurutkan semangatnya walau luka-luka ditubuhnya akibat perang uhud belumlah sembuh.

Diperang Yamamah, … ketika perang melawan orang-orang yang murtad berlangsung, Nusaibah wanita ksatria inipun ambil bagian walau ia seorang wanita dengan usianya yang 60 tahun. Ia meminta ijin kepada amirul mukminin Abu Bakar ash-shiddiq ra untuk ikut serta dalam pasukan mujahidin. Ia memohon kepada ALLÂH untuk menyaksikan kematian musailamah yang telah mencoreng kerasulan Nabinya dan membunuh anaknya.. atau ia mati sebagai syahid dalam perang itu. Iapun berperang dengan gigihnya. Do’anyapun terkabul, ia telah menyaksikan terbunuhnya musailamah. Kebahagiaannya terukir direlung hatinya…. karena kehormatan islam tetap terjaga di tangan orang-orang yang membelanya, dan dia adalah salah satunya. Iapun sujud syukur sebagai tanda terimakasih kepada ROBBnya, kegembiraanya telah menghilangkan rasa sakit akibat 11 luka ditubuhnya dan satu lengannya yang terputus diperang itu. Sungguh ia wanita ksatria dan mujahidah sejati. Kecintaannya kepada islam dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah berani berkorban walau jiwa dan raga menjadi tebusannya….Semoga ALLÂH meridhainya, dan meridhai para shahabat semuanya.

Dua cuplikan kisah diatas adalah kisah nyata yang telah ditorehkan oleh 2 orang sosok muslim yang mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembawa risalah islam. Kecintaan kepada Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam merupakan bagian dari keimanan, dan keimanan adalah ucapan dan perbuatan. Bentuk-bentuk pengorbanan dengan amal nyata di dalam kehidupan menjadi suatu tuntutan dan keniscayaan bagi orang-orang yang mengaku beriman dengan kerasulan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahkan harus melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri. Inilah makna dari sabda beliau saw (yang artinya): “Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya”.(HR. al-Bukhari). Dan seperti yang beliau sabdakan kepada Umar, katika umar pernah berkata: “ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala-galanya selain diriku sendiri.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak, demi Dzat yang jiwa berada di Tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri !.” Maka Umar berujar; ‘Sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku’. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “sekarang (baru benar) wahai Umar.” (HR.al-Bukhari).

Hari ini kecintaan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berupa pengorbanan dengan nyawa dan harta bukan berarti terputus. Sebab Jihad Fii Sabilillah untuk membela kehormatan Dienul-islam dan meninggikan kalimat ALLÂH adalah sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi kita yang mulia. Termasuk diantaranya membela kerasulan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak sepatutnya dilecehkan dan dinodai oleh manusia manapun dimuka bumi ini.

Nasib Buruk Para Penghina Nabi

Menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah seperti menghina salah seorang dari kaum muslimin. Beliau adalah makhluk pilihan Allah yang dimuliakan dengan risalah dan akhlak yang terpuji. Maka, penghinaan terhadap beliau merupakan penghinaan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Allah telah menjanjikan siksa yang pedih di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang menghina Allah, Agama-Nya, dan para utusan-Nya. Orang-orang yang telah menghina para utusan Allah terdahulu menjadi bukti akan ancaman Allah ini.

Kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam telah menghina utusan Allah kepada mereka. Lalu Allah menghancurkan mereka dengan menenggelamkan mereka di dunia. Sedangkan di akhirat, mereka akan mendapatkan adzab yang lebih pedih.

Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS. Al-A’raf: 64)
Kaum Nabi Huud ‘alaihis salam yang mengolok-olok dan mendustakannya, lalu Allah menyelamatkan Huud ‘alaihis salam dan menghancurkan kaumnya.

Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Huud dan orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami; dan Kami selamatkan (pula) mereka (di akhirat) dari azab yang berat. Dan itulah (kisah) kaum ‘Ad yang mengingkari tanda-tanda kekuasaan Tuhan mereka, dan mendurhakai rasul-rasul Allah dan mereka menuruti perintah semua penguasa yang sewenang-wenang lagi menentang (kebenaran). Dan mereka selalu diikuti dengan kutukan di dunia ini dan (begitu pula) di hari kiamat. Ingatlah, sesungguhnya kaum ‘Ad itu kafir kepada Tuhan mereka. Ingatlah kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad (yaitu) kaum Huud itu.” (QS. Huud: 58-60)

Nabi Shalih ‘alaihis salam diutus kepada kaum Tsamud, lalu mereka menghina dan mendustakannya. Maka Allah menyelamatkan Shalih dan menghancurkan kaumnya.
Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.” (QS. Al-A’raf: 78)

Nabi Luth ‘alaihis salam yang diutus kepada kaum Sodom, lalu mereka mengejeknya dan mengatakan, “Sesunguhnya mereka ini adalah manusia yang sok suci.” Maka Allah menyelamatkannya dan orang-orang beriman yang bersamanya sedangkan orang-orang yang menghina dan mendustakannya dihancurkan oleh-Nya.

Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali isterinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berdosa itu.” (QS. Al-A’raf: 83-84)

Dan dalam firman Allah yang lain:
Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (Kami balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi, Yang diberi tanda oleh Tuhanmu, dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud: 82-83)

Kaum Nabi Syu’aib alaihis salam juga telah mengejek nutusan Allah kepada mereka  dengan mengatakan, “Hai Syu’aib, apakah shalatmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal.” (QS. Huud: 87)
Maka Allah menghancurkan mereka dan menyelamatkan Syu’aib. Dia berfriman: Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (yaitu) orang-orang yang mendustakan Syu’aib seolah-olah mereka belum pernah berdiam di kota itu; orang-orang yang mendustakan Syu’aib mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 91-92)

Adapun orang-orang yang suka mengejek, menghina, mendustakan dan  memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka terbunuh di dunia dengan hina dan diakhirat mendapatkan adzab yang pedih.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Kisah tentang penghancuran Allah terhadap para pencela agama, satu demi satu telah diketahui. Para ahli sejarah dan tafsir telah menceritakannya. Di antara mereka adalah dedengkot Quraisy, seperti Al-Walid  bin Mughirah, ‘Ash bin Wail, Aswadan bin Abdul Muthallib, Ibnu Abi Yaghuts dan Al-Harits bin Qais.”

Raja Kisra telah mencabik-cabik surat yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu mengolok-oloknya, tidak lama setelah itu Allah membunuh dan menghancurkan kerajaannya sehancur-hancurnya. Hal ini merupakan perwujudan dari firman Allah:

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.” (QS. Al-Kautsar: 3)
Setiap orang yang membenci dan memusuhi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka pasti Allah menghancurkannya dan menghilangkan kebesarannya. Di antara atsar yang terkenal adalah yang menyebutkan bahwa “daging para ulama adalah racun.” Lantas bagaimana dengan daging para nabi ‘alaihimus salam?

Dan dalam hadits shahih disebutkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah telah berfirman, “Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, Maka aku nyatkan perang terhadapnya.” Lalu bagaimana dengan orang-orang yang memusuhi para nabi ‘alaihimus salam? Dan barangsiapa menyatakan perang terhadap Allah, pastilah ia akan hancur.” (Ash-Sharimul Maslul, Ibnu Taimiyyah, hlm. 164-165)

Hukum bunuh Bagi Penghina Nabi

Sekali lagi, menghina Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak seperti menghina manusia lainnya. Menghina beliau sama saja dengan menghina Allah sebagai Dzat yang mengutusnya, berarti juga menghina Islam yang dengannya dia diutus. Jika demikian, wajarkah apabila umat Islam bangkit berdiri memprotes dan melawan para pencela Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Allah Ta’ala berfirman:
وَإِنْ نَكَثُوا أَيْمَانَهُمْ مِنْ بَعْدِ عَهْدِهِمْ وَطَعَنُوا فِي دِينِكُمْ فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَا أَيْمَانَ لَهُمْ لَعَلَّهُمْ يَنْتَهُونَ
Jika mereka merusak sumpah (janji)-nya sesudah mereka berjanji, dan mereka mencerca agamamu, maka perangilah pemimpin-pemimpin orang-orang kafir itu, karena sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang (yang tidak dapat dipegang) janjinya, agar supaya mereka berhenti.” (QS. At-Taubah: 12)

Dalam ayat di atas, Allah menyebut orang yang mencerca agama sebagai gembong kekafiran. Tentu saja predikat ini lebih buruk dari sekedar kekafiran belaka. Karenanya, sebagian ulama menjadikan ayat di atas sebagai dalil untuk menyatakan wajibnya membunuh setiap orang yang mencaci agama.
Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan dalam tafsirnya, “dari ayat ini diambil dasar hujjah (argumentasi) untuk membunuh orang yang mencerca Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, atau orang yang mencerca agama Islam atau mencelanya.”
“Dari ayat ini diambil dasar hujjah (argumentasi) untuk membunuh orang yang mencerca Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, atau orang yang mencerca agama Islam atau mencelanya.” ibnu katsir
Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah menjuluki mereka sebagai gembong kekafiran dikarenakan cercaan mereka terhadap agama. Maka pastilah, bahwa setiap orang yang mencerca agama adalah gembong kekafiran.” (Ash-Sharimul Maslul, Ibnu Taimiyyah, hlm. 17, 512, 546)

Beliau berkata lagi, “Sesungguhnya pembunuhan atas orang yang mencela Nabi, meskipun pencela itu telah dibunuh, ia tetap kafir. Pembunuhan merupakan salah satu bentuk hukuman di dalam Islam. Pembunuhan itu ditegakkan atasnya bukan hanya dikarenakan kekafirannya dan penyerangannya saja. Karena hadits-hadits menunjukkan bahwa perbuatan itu merupakan tindakan yang melebihi kekafiran dan penyerangan, dan bahwa para sahabat telah memerintahkan hukum bunuh atas perbuatan seperti itu. Sungguh, telah tetap tentang hukum bunuh atas perbuatan seperti itu berdasarkan sunnah dan ijma’ kaum muslimin.” (lihat Fatwa Mati Buat Penghujat (edisi indonesia), Abdul Min’im Mushthafa Halimah, hal. 12)

Penjelasan ini akan semakin lengkap dan kuat dengan beberapa riwayat berikut ini:

1. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, beliau menuturkan, pernah ada seorang lelaki buta memiliki seorang budak wanita, dan budak ini mengandung anaknya. Ia sering sekali mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencelanya. Lelaki tadi melarangnya, namun wanita tersebut tidak mau berhenti; dan dia mencegahnya, namun budak wanita tadi tidak bisa dicegah. Kemudian pada suatu malam wanita tadi mencela Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mencacinya. Maka si lelaki tadi mengambil Mighwal (pedang tipis) dan meletakkannya di atas perut wanita tadi, lalu menindihnya sehingga dia terbunuh. Tapi bersamaan dengan kematiannya, bayi yang ia kandung keluar dari kedua selangkangan kakinya. Farji perempuan itu penuh dengan darah. Esoknya, kejadian itu disampaikan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu beliau mengumpulkan para sahabatnya dan bersabda, “Aku bersumpah kepada Allah untuk mencari lelaki yang telah melakukan apa yang dilakukannya, dan aku berkewajiban untuk menghukumnya, kecuali jika dia memberikan hujjah.

Kemudian seorang lelaki buta datang dan berjalan melewati orang-orang dengan badan gemetar sehingga ia duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Sejenak dia berkata, “Ya Rasulullah, aku-lah pemilik budak itu. Dia selalu mencaci dan mencelamu. Telah kularang dia, tapi tetap saja dia tidak mau berhenti. Dan telah kucegah dia, tapi dia tidak dapat dicegah. Aku memiliki dua orang anak dari hubunganku dengannya seperti dau buah permata, dan dia pun sangat sayang padaku. Namun semalam, dia kembali mencaci dan mencelamu. Lalu kuambil pedang dan kuletakkan di atas perutnya. Kemudian kutindih dia sehingga dia mati terbunuh.

Mendengar kesaksiannya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Saksikanlah oleh kalian semua bahwa darahnya tumpah sia-sia.” (HR. An-Nasa’i dan Abu Dawud)

2. Ibnu ‘Abbas berkata, “Seorang wanita dari kabilah Khathamah, bernama Asma’ binti Marwan, mengejek nabi shallallahu ‘alaihi wasallam  melalui syairnya. Mendengar ejekan tadi, Nabi berkata kepada para sahabatnya, “Siapa yang siap menyelesaikan urusan wanita itu untukku?” Seorang lelaki bernama Umair bin Adi bin Al-Khatami berdiri, “saya”

Lalu ia pergi mencari wanita tadi dan lalu membunuhnya. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia langsung kembali dan melaporkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliaupun kemudia bersabda, “Kambing betina sudah tidak bisa lagi menanduk.

Umair lalu menuturkan, “Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling kepada para sahabat yang ada di sekelilingnya, dan kemudian berkata, “Apabila kalian ingin melihat seorang lelaki yang menolong Allah dan Rasul-Nya secara diam-diam dan tidak diketahui orang, maka lihatlah kepada Umair bin Adi.” (Disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalam Ash-Sharim Al-Maslul, hlm. 95)

3. Nabi shallallahu ‘alihi wasallam pernah bersabda; “Siapa yang bersedia membereskan Ka’ab bin Asyraf? Dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya!” Maka berdirilah Muhamamd bin Maslamah dan berkata, “Apakah engkau suka bila aku membunuhnya, Wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Ya”. (Muttafaqun ‘Alaih)

4. Abu Bakar Ash-Shiddiq menulis surat kepada Muhajir bin Abu Rabi’ah, berkenaan dengan perkara seorang wanita yang menyanyikan sya’ir berisi penghinaan terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (Setelah beliau wafat). Surat itu berbunyi, “Seandainya engkau tidak mendahuluiku membereskannya, niscaya aku akan memerintahkan kamu untuk membunuhnya. Karena hukum pidana atas orang yang menghina para nabi tidaklah serupa dengan hukum pidana yang lain. Barangsiapa yang berani melakukan penghinaan terhadap Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, maka dia menjadi murtad apabila dia seorang muslim, dan menjadi kafir harbi yang khianat, apabila dia seorang kafir dzimmi.”

Imam Mujahid menuturkan, “Suatu ketika, seorang lelaki yang mencaci Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dibawa di hadapan Umar bin Khaththab, lantas Umar membunuhnya. Setelah itu dia berkata, “Barangsiapa yang mencaci Allah atau mencaci seorang nabi, maka bunuhlah dia.” (Dinukil dari kitab “Fatwa Mati Buat Penghujat”, Abu Bashir, hlm. 49)

Wallahu a’lam.

Kredit : http://khilafahdawlaislamiyah.wordpress.com/

advertisement

Google+ Followers

Popular Posts week

Popular Posts

Blog list of options.