advertisement

Ahad, 25 Januari 2015

Membersamai Atau Menyelisihi Asy Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy -Apalagi Asy Syaikh Abu Qatadah Al Filastiniy- Adalah Halal Berdasarkan Ijma’ Qaum Muslimin

menyelesihi

Bismillah…

” Membersamai Atau Menyelisihi Asy Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy -Apalagi Asy Syaikh Abu Qatadah Al Filastiniy- Adalah Halal Berdasarkan Ijma’ Qaum Muslimin “…

Oleh : Marsya Mawi…

” Alhamdulillah, begitu nikmatnya hidayah dan petunjuk ini sehingga Kami hari ini bisa hidup di atas pemahaman ini, alhamdulillah. Pemahaman yang melepaskan diri dari berbagai bentuk kekufuran dan kesyirikan. Alhamdulillah…

Alhamdulillah, Kami telah mengikuti kajian Kitabut Tauhid milik Syaikhul Islam Muhammad Bin Abdul Wahhab -rahimahullah- di berbagai tempat sehingga menuntun Kami untuk memahami beberapa hal. Alhamdulillah…


Di antaranya hal tersebut adalah bahwa dalam bersikap di dalam Dien ini maka yang Kami ikuti bukanlah sosok, tetapi yang Kami ikuti adalah sejauh mana sosok ini kuat dalam hujjahnya. Karena kebenaran itu terletak pada hujjah dan bukan pada sosok, wallahu a’lam. Kami in syaa ALLAH bukanlah termasuk orang maupun qaum yang taklid buta kepada sosok dengan tanpa memperhatikan hujjah dari sosok tersebut…

Semoga ALLAH merahmati Al Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- dimana Beliau berkata :

” Mereka jadikan ucapan guru-gurunya sebagai nash yang memiliki kepatenan lagi dua nash ditimbang darinya…
Sedang Firman Rabbul ‘Alamin dan hamba-NYA Mereka jadikan samar yang mengandung banyak makna. “…
Selesai…

Maka menurut Kami judul di atas bukanlah hal yang aneh karena memang demikianlah permasalahannya yang tidak akan pernah bisa dibantah oleh siapapun dewasa ini, in syaa ALLAH. Kemudian Kami kukuhkan keyakinan ini dengan mengutip apa yang datang dari dua tokoh yang sama-sama diakui di dalam dunia Tauhid Wal Jihad zaman ini…

Syaikhuna Abu Muhammad Al Maqdisiy berkata seraya menasehati qaum Muslimin :

” Selama Al Haq itu telah nampak di hadapan Engkau dengan dalilnya, maka gigitlah kuat-kuat dengan geraham dan janganlah Kamu meninggalkannya karena ucapan atau pendapat seseorang. Bila Engkau mendapatkan petunjuk pada kebenaran dalam suatu masalah terus kebenaran itu datang seraya menyelisihi apa yang Engkau dapatkan dari guru-gurumu, maka janganlah kebenaran itu dibantah dengan ucapan atau perbuatan Mereka, karena Firman Al Khaliq tidak boleh ditentang dengan ucapan makhluk. Berapa banyak hal seperti ini telah menghalangi banyak orang yang sebelumnya Kami mengira Mereka itu Para Pencari Kebenaran dari sikap bergabung dengan Para Penempuh Jalan, serta Syaitan menggembosi Mereka dengan berbagai syubhat. “…

Beliau -hafidzahullah- juga berkata :

” Janganlah menghalangimu dari mengikuti Al Haq dan MEMBELANYA meskipun keberadaan sebagian guru-gurumu menyelisihinya. Sungguh Kami dulu di awal pencarian ilmu terjadi pertentangan dan isykal di hadapan Kami sebagian ucapan para Syaikh yang Kami saat itu percaya benar kepada Mereka, padahal Al Haq dalam masalah itu telah nyata di hadapan Kami, sehingga Kami sering bimbang dan tawaqquf. Dan ini adalah tergolong rintangan yang menghambat Pejalan dan merintangi perjalanan. Padahal hal seperti itu tidak layak menjadi penghalang bagi pencari Al Haq dan tidak layak lama tawaqquf dan bimbang di dalamnya dengan sebab hal itu. Selama Al Haq itu telah nampak dan jelas dengan dalilnya dari Al Kitab atau As Sunnah, maka pendapat yang selaras dengannya adalah diterima dan pendapat yang menyelisihinya adalah tertolak lagi terlempar, karena semua orang diambil dan ditolak dari pendapatnya kecuali Al Ma’shum -shallallahu ‘alaihi wa sallam-…

Jauhilah pendapat orang-orang bodoh. Bahwa Firman ALLAH itu tidak boleh diambil dengan zhahir-zhahirnya, karena bisa saja yang dimaksud itu adalah ini atau itu dan Kita tidak mampu memahami Al Qur’an. Dan ucapan-ucapan lainnya yang dengannya Mereka mempersulit apa yang telah ALLAH Ta’ala mudahkan…

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

” Dan KAMI telah memudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah yang mengambil pelajaran ?. “…
( QS. Al Qamar : 22 ). “…

Beliau -hafidzahullah- juga berkata :

” Karena Jama’ah itu adalah yang menyelarasi Al Haq walau Engkau sendirian, dan bukanlah dengan jumlah banyak orang kebenaran itu diketahui dan bukan pula dengan sosok terkenal, namun sosok itu dikenal dengan sebab Al Haq. Ingatlah selalu bahwa ada Nabi yang datang di Hari Kiamat sedang Ia tidak memiliki pengikut dan anshar kecuali satu dan dua orang, dan ada Nabi yang datang tanpa seorang pengikutpun… Padahal Ia itu Nabi !!!. “…
Selesai ucapan Beliau Asy Syaikh Abu Muhammad Al Maqdisiy…

Ana katakan, perhatikan penekanan ucapan Beliau, ” ( Janganlah menghalangimu dari mengikuti Al Haq dan MEMBELANYA meskipun keberadaan sebagian guru-gurumu menyelisihinya. Sungguh Kami dulu di awal pencarian ilmu terjadi pertentangan dan isykal di hadapan Kami sebagian ucapan para Syaikh yang Kami saat itu percaya benar kepada Mereka, padahal Al Haq dalam masalah itu telah nyata di hadapan Kami, sehingga Kami sering bimbang dan tawaqquf. Dan ini adalah tergolong rintangan yang menghambat Pejalan dan merintangi perjalanan. Padahal hal seperti itu tidak layak menjadi penghalang bagi pencari Al Haq dan tidak layak lama tawaqquf dan bimbang di dalamnya dengan sebab hal itu. Selama Al Haq itu telah nampak dan jelas dengan dalilnya dari Al Kitab atau As Sunnah, maka pendapat yang selaras dengannya adalah diterima dan pendapat yang menyelisihinya adalah tertolak lagi terlempar, karena semua orang diambil dan ditolak dari pendapatnya kecuali Al Ma’shum -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. ” ), MAKA ENGKAU WAHAI IKHWAN, dapat mengambil faidah darinya…

Syaikhuna Abu Mush’ab Adz Dzarqawiy -rahimahullah- berkata dalam tanggapan Beliau kepada Syaikhuna Abu Muhammad Al Maqdisiy -hafidzahullah- :

” Prinsip dakwah Kita adalah mengikuti Al Qur’an dan Sunnah. Selanjutnya, Kita mengambil pendapat yang berkesesuaian dengan keduanya dan membuang semua pendapat yang menyelisihi keduanya…

Sebagaimana Saya mengambil ilmu dari Syaikh Abu Muhammad -semoga ALLAH membalasnya dengan kebaikan-, Saya juga mengambil ilmu dari Ulama yang lain, bukan berarti Saya hanya mengikuti perkataan Al Maqdisiy saja. Ilmu tidaklah berkonsentrasi dalam diri Beliau seorang, dan tidak semua perkataan Al Maqdisy tepat serta harus diikuti. Khususnya dalam masalah-masalah ijtihadiyyah dan kasus-kasus yang terjadi di lapangan…

Secara pribadi, dalam menjalankan Jihad ini, Saya tidak pernah menjalankan suatu urusan kecuali setelah dipandu oleh kaidah-kaidah syar’i. Saya tidak berani menerapkan sebuah masalah sebelum Saya meminta masukan dari para Ulama yang jujur dan ikut serta berjihad. HANYA ALLAH YANG TAHU KALAU HUBUNGAN SAYA TERUS BERJALAN DENGAN SEBAGIAN ULAMA YANG ILMUNYA LEBIH DIBANDING AL MAQDISIY, dimana Saya selalu meminta fatwa kepada Mereka dalam kebanyakan kasus yang Saya hadapi. Para Ulama itu sekarang tengah diuji dengan dipenjarakan di penjara-penjara Thaghut. Kalau bukan khawatir akan membahayakan Mereka, tentu akan Saya sebutkan nama-nama Mereka. “…
Selesai ucapan Asy Syaikh Asy Syahid ( in syaa ALLAH ) Abu Mush’ab Adz Dzarqawiy…

Perkataan Asy Syaikh Abu Mush’ab di ataslah kiranya sebagai salah satu yang menguatkan kaki-kaki Ikhwan di sana sehingga Mereka tidak terlalu risau dengan sikap Syaikh Al Maqdisiy hari ini, wallahu a’lam…

Alhamdulillah, inilah kiranya coretan singkat Kami hari ini, kiranya bermanfaat. Kalau memang bermanfaat, silahkan di-share. Memang ada salah dan keliru, maka itulah Anak Adam. “…

Alhamdulillah…

advertisement

Google+ Followers

Popular Posts week

Popular Posts

Blog list of options.