advertisement

Khamis, 13 Oktober 2016

Jihadis Asing Islamic State (IS) Rata-Rata Berpendidikan Lebih Tinggi


RAQQAH (Manjanik.net) – Sebuah studi menunjukkan bahwa orang-orang dan para jihadis asing yang bergabung dengan Daulah Islam/Islamic State (IS) rata-rata berpendidikan lebih tinggi dari tingkat pendidikan rata-rata di negara mereka.

Studi yang dilakukan oleh Bank Dunia itu menunjukkan hasil yang berbeda dengan yang selama ini diyakini bahwa bukan kemiskinan yang mendorong mereka tertarik untuk bergabung dengan Islamic State (IS) yang oleh PBB dan berbagai negara-negara barat dan teluk sekutu Amerika dinyatakan sebagai organisasi teroris.

Selain itu, mereka di ditawari menjadi pelaku bom syahid adalah orang-orang yang rata-rata dalam peringkat lebih terdidik. Studi itu seperti yang dikutip AFP berjudul “Economic and Social Inclusion to Prevent Violent Extremism” (Sosial Ekonomi Inklusi untuk Mencegah Kekerasan Ekstremisme).

Penelitian itu bertujuan untuk mengidentifikasi ciri-ciri sosio-ekonomi yang mungkin bisa menjelaskan mengapa beberapa orang tertarik pada Islamic State (IS) yang berbasis Suriah dan Iraq itu. Hasilnya memberi penjelasan bahwa kemiskinan dan keterbelakangan bukan akar dukungan untuk Islamic State (IS).

Hampir tanpa kecuali, para jihadis asing yang bergabung dengan Islamic State (IS) di Suriah dan Iraq pernah beberapa tahun mengikuti pendidikan selain di negara asal mereka, apakah di Eropa, Afrika atau di tempat lain di Timur Tengah. Pendidikan mereka lebih tinggi  dari rata-rata warga negaranya.
Data itu menunjukkan dengan jelas, kata laporan itu, bahwa “kemiskinan bukan yang mengendalikan radikalisasi menjadi kekerasan ekstremisme.”

Dari 331 orang yang direkrut dan bergabung dengan Islamic State (IS) sebagaimana dijelaskan dalam database Islamic State (IS) yang bocor, hanya 17 persen tidak menyelesaikan pendidikan tinggi. Sementara seperempat dari mereka mempunyai pendidikan di tingkat universitas.

Hanya mereka dari Eropa Timur yang berada di bawah rata-rata, dan itupun hanya sedikit saja, menurut penelitian ini.

“Mereka yang direkrut dari negara lain (jihadis asing) dari Timur Tengah, Afrika Utara dan Asia Selatan dan Asia Timur secara signifikan lebih berpendidikan ketimbang yang tipikal di wilayah mereka,” kata laporan Bank Dunia itu. [AP/shc]

advertisement

Google+ Followers

Popular Posts week

Popular Posts

Blog list of options.